Seratus delapan belas tahun yang lalu, tepatnya pada 20 Mei 1908, sebuah riak kecil di Batavia mengubah takdir sebuah bangsa besar. Lahirnya Boedi Oetomo bukan sekadar berdirinya sebuah organisasi, melainkan sebuah lompatan besar dalam cara kita berjuang. Para pemuda terpelajar saat itu menyadari satu hal krusial: senjata kompeni tidak bisa hanya dilawan dengan bambu runcing, melainkan harus dihadapi dengan ketajaman pikiran, kekuatan pendidikan, dan ikatan persatuan yang melampaui batas-batas suku maupun daerah. Itulah fajar kebangkitan kita.
Hari ini, di tahun 2026, kita berdiri kokoh di abad yang jauh berbeda. Kita tidak lagi berperang melawan penjajahan fisik. Namun, tantangan yang kita hadapi tidak kalah sengit. Di era transformasi digital dan dinamika global yang bergerak secepat kilat, medan pertempuran kita telah berpindah ke ruang-ruang siber, ketahanan pangan, kedaulatan informasi, dan kemandirian teknologi.
Menatap peringatan Harkitnas ke-118 ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menitipkan sebuah pesan mendalam yang harus tertanam di dada kita: "Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara."
